Iduladha 1447 H: Tentang Kurban, Pengabdian, dan Keikhlasan untuk Kepentingan Bersama

( Foto : Ilustrasi Idul Adha )

GLOBALINSIGHT, ​LAMONGAN – Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah kembali hadir membawa pesan besar bagi kehidupan umat manusia. Momentum refleksi yang jatuh pada Rabu (27/5/2026), bukan sekadar ritual keagamaan tahunan, melainkan sebuah pengingat spiritual yang mendalam di tengah pusaran kehidupan modern yang kian individualis.

​Di era modern ini, masyarakat kerap terjebak dalam kesibukan mengejar materi dan ambisi pribadi. Sayangnya, tidak sedikit pula yang masih memaknai Iduladha secara normatif: sebatas membeli hewan kurban, menyembelihnya, lalu selesai setelah daging dibagikan. Padahal, substansi kurban jauh melampaui prosesi fisik penyembelihan kambing atau sapi tersebut.

​Sejarah Islam mengabadikan kisah agung Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagai fondasi Iduladha. Peristiwa tersebut merupakan bentuk ketundukan total, kesabaran, serta keikhlasan melepaskan sesuatu yang paling dicintai demi menjalankan amanah. Dari titik historis inilah umat diajarkan bahwa esensi berkurban sesungguhnya adalah menyembelih sifat egois, kesombongan, kerakusan, serta dominasi kepentingan pribadi dalam diri manusia.

Manifestasi Kurban dalam Pengabdian Publik

​Nilai-nilai luhur Iduladha sangat relevan diimplementasikan oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk para pejabat pemerintahan di Kabupaten Lamongan maupun daerah lainnya. Jabatan yang diemban seyogianya dipandang sebagai amanah, bukan sekadar fasilitas atau simbol kehormatan.

​”Sebab pada hakekatnya, pengabdian tanpa pengorbanan hanyalah deretan kata-kata tanpa makna.”

​Ketika seorang pemimpin memiliki keikhlasan untuk mendengar jeritan rakyat kecil, turun langsung meninjau kondisi lapangan, dan rela melepaskan zona nyaman demi pelayanan publik, di situlah esensi kurban mewujud nyata dalam pengabdian.

Tanggung Jawab Moral Insan Pers

​Transformasi nilai kurban juga mengalir kuat dalam tubuh insan pers. Di balik setiap informasi yang tersaji, jurnalis memikul tanggung jawab moral yang besar untuk menjaga akal sehat publik. Pers berkewajiban menjadi jembatan komunikasi yang objektif dan mengawal kepentingan masyarakat agar tidak tergerus oleh kepentingan kelompok tertentu.

​Bekerja dengan jujur, mempertahankan independensi, dan konsisten berpihak pada kebenaran adalah bentuk pengorbanan nyata para jurnalis. Dedikasi waktu, tenaga, hingga risiko yang dihadapi di lapangan menjadi bukti bahwa pers berkomitmen menjaga informasi tetap jernih dan tepercaya, selaras dengan Kode Etik Jurnalistik.

Merawat Keikhlasan Sepanjang Zaman

​Momentum Iduladha 1447 H menegaskan bahwa nilai kurban tidak boleh berhenti di tempat jagal. Kurban harus berdenyut dalam perilaku sehari-hari melalui kerelaan menahan ego, menjaga persatuan, serta membantu sesama tanpa pamrih. Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, namun senantiasa membutuhkan pribadi-pribadi yang ikhlas dalam mengabdi.

​Pada akhirnya, hewan kurban yang disembelih akan habis didistribusikan. Namun, nilai keikhlasan, kepedulian sosial, dan semangat pengorbanan demi kepentingan bersama akan terus hidup, menjadi fondasi kokoh bagi peradaban manusia sepanjang zaman. (*)

Oleh: Sujono Maulana Pimred Global Insight.

Sujono Maulana juga tergabung dalam media online Global Jatim.

Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi.

Kopi Insight atau rubik opini di Global Insight untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.