GLOBALINSIGHT, LAMONGAN – Slogan “Megilan” yang menjadi kebanggaan Kabupaten Lamongan seolah kehilangan taringnya saat memasuki gerbang Terminal Lamongan. Alih-alih menyambut penumpang dengan kenyamanan sebagai “wajah” Kota Soto, terminal di bawah naungan Pemprov Jatim ini justru menyuguhkan pemandangan kumuh dan ironi fasilitas publik yang memprihatinkan.
Ironi Air: Kencing Harus Menahan, Cuci Bus Jalan Terus
Kekecewaan mendalam dirasakan oleh salah satu warga Lamongan yang tengah beraktivitas di terminal tersebut baru-baru ini. Saat hendak menggunakan fasilitas toilet untuk buang air kecil, ia hanya menemukan kran yang kering kerontang.
Namun, hanya berjarak beberapa meter dari toilet yang “mati” itu, pemandangan kontras tersaji. Air justru mengalir deras dari selang-selang yang digunakan awak bus untuk memandikan armada mereka.
“Saya mau kencing airnya habis. Tapi anehnya, ada seseorang yang mencuci bus, airnya lancar-lancar saja,” keluh warga yang meminta identitasnya dirahasiakan tersebut kepada awak media.
Usut punya usut, kelancaran air bagi armada bus tersebut diduga memiliki “harga” tersendiri. Berdasarkan pengakuan salah satu awak bus di lokasi, mereka harus merogoh kocek sebesar Rp120.000 sebagai biaya cuci bus agar pasokan air tetap terjamin.
“Biaya cuci bus itu Rp 100 ribu yang Rp 20 ribu yang airnya. Ya, biasanya segitu biaya nyuci bus. Memang kenapa ya ?” jawab awak bus yang enggan disebutkan namanya.
Dishub Jatim: “Nanti Disampaikan ke Pimpinan”
Dugaan adanya komersialisasi air di tengah macetnya fasilitas publik ini memicu tanya besar. Apakah aspek pemeliharaan toilet dikalahkan oleh kepentingan bisnis cuci bus?
Saat dikonfirmasi di lokasi, petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Timur yang berjaga di Terminal Lamongan tak banyak memberikan penjelasan teknis. Jawaban klasik khas birokrasi pun terlontar.
“Hal ini akan kami sampaikan ke pejabat yang lebih tinggi terkait kendala ini,” ujar petugas tersebut singkat.
Mempertanyakan Komitmen Perawatan
Kondisi Terminal Lamongan yang nampak kumuh ini menjadi rapor merah bagi sinergi antara Pemprov Jatim dan Pemkab Lamongan. Sebagai titik singgah penumpang dari berbagai kota, terminal seharusnya menjadi etalase kebersihan dan kerapihan daerah.
Publik kini mempertanyakan dua hal mendasar:
Masalah Anggaran: Apakah memang tidak ada alokasi dana untuk perawatan rutin fasilitas dasar seperti air dan kebersihan toilet?
Kelalaian Petugas: Ataukah ada dugaan pembiaran dari petugas Dishub Pemprov Jatim yang lebih memprioritaskan layanan berbayar (cuci bus) ketimbang hak publik?
Wajah Kusam Kota “Megilan”
Jika kondisi ini terus dibiarkan, citra “Lamongan Megilan” akan tergerus oleh bau pesing dan debu terminal yang tak terurus. Perbaikan total dan transparansi pengelolaan fasilitas di Terminal Lamongan mendesak dilakukan agar fungsi pelayanan publik kembali ke jalurnya, bukan justru menjadi ladang pungutan yang meminggirkan kebutuhan dasar warga.












